Sunday, January 23, 2011

Pandangan Masyarakat tentang Orang-orang PKS

Partai Keadilan Sejahtera atau biasa disebut PKS. Ya, ketika mendengar “PKS”, yang tervisualisasi di pikiran masyarakat secara umum adalah mengenai sebuah partai Islam yang agak eksklusif, agak sedikit keras, dihuni oleh para pemuda yang bersemangat, memegang nilai-nilai Islam dengan konsisten, penuh kepedulian, dan masih banyak lagi hal yang lainnya yang setidaknya hal-hal yang telah disebut di atas cukup mewakili.
“Bersih”, kata itu tampaknya sudah tidak tampak lagi dari citra partai ini. Apa penyebabnya? Beberapa kadernya baik di pusat maupun di daerah sudah ada yang divonis sebagai koruptor. Tifatul Sembiring, mantan Presiden PKS, pernah mengatakan bahwa PKS bukanlah partainya malaikat yang tak pernah salah. Ibarat melihat di papan tulis yang putih bersih, ketika di papan tulis itu ada satu noktah hitam, ia akan sangat kelihatan tampak. Namun, kalau papan tulisnya hitam, maka noktah hitam itu tidak akan kelihatan. Papan tulis yang putih itulah PKS dan papan tulis yang hitam tadi adalah partai-partai lain yang sudah lumrah kadernya melakukan korupsi dan skandal-skandal lainnya.
PKS tercitra secara eksklusif memang wajar. Hal itu tampak dan tercermin dari beberapa kadernya yang anti-tahlilan atau sikap-sikap yang tidak populer lainnya yang cenderung fanatic yang justru mengucilkan partai ini sendiri. Itulah mengapa di periode-periode ini Anis Matta, Sekjen PKS, begitu gencar untuk membawa partai ini ke tengah, tidak ke kanan ataupun ke kiri dan inilah pekerjaan yang sangat berat. Ketika PKS mencoba sedikit untuk ke kiri dengan menerima anggota partai dari nonmuslim, orang-orang kanan akan berteriak, “PKS tidak istiqomah lagi”. Sebaliknya ketika PKS mencoba ke kanan dengan meninggalkan bid’ah-bid’ah yang berkembang di masyarakat, orang-orang kiri akan berteriak, “PKS ekstrimisme, PKS fanatic tidak menghargai ke-Bhinneka-an”. Di sinilah pekerjaan rumah dari PKS agar kader-kadernya dapat ditempatkan di tengah-tengah. PKS kalau ingin menang tidak ada cara lain kecuali dia harus ke kanan dan menunjukkan diri bahwa ia adalah partai yang paling toleran dan paling moderat. Itu adalah suatu keharusan.
PKS juga tergambar merupakan partai yang agak keras dalam artian teguh memegang prinsipnya. Salah satu prinsip itu adalah berkaitan dengan isu Palestina dengan Hamasnya. Partai ini begitu vokal untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dengan Hamasnya. Tak hayal ketika Israel menginvasi Palestina, kader-kader PKS langsung memutihkan jalanan ibukota untuk berdemo menentang aksi tersebut. Itu adalah karakter tersendiri dari PKS yang menjadi keunggulannya.  Masyarakat akan menilai bahwa partai ini memiliki keteguhan prinsip dan keteguhan prinsip itu menjadi modal tersendiri bagi PKS untuk memimpin negara ini.
Yang menjadi kekuatan yang luar biasa lainnya dari PKS adalah bahwa partai ini ditopang oleh para pemuda yang umumnya mahasiswa yang begitu bersemangat. Sosok pemuda memiliki tiga potensi yang terhimpun di dalamnya, yaitu potensi fisik, potensi emosi, dan potensi akal. Bersama kita ketahui bahwa perjalanan sejarah bangsa ini tak lepas dari peran penting para pemuda. Dari peristiwa Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan RI, dan akhirnya Reformasi, semua peristiwa penting itu dipelopori oleh para pemuda. Ini menunjukkan bahwa roda regenerasi dan kaderisasi dari partai ini begitu sangat berjalan. Kita ambil contoh saja mengenai presiden-presiden dari PKS yang cukup singkat masa kepemimpinannya. Beda dengan partai lain yang mungkin sepanjang beberapa episode pemilu selalu menjadi ketua umum partainya. Para pemuda yang menjadi penopang PKS ini juga merupakan kader yang sangat rela berkorban untuk partainya, pengorbanan tenaga dan dana tentunya. Maka kita lihat partai ini tidak pernah kesulitan dalam mencari dana, sehingga muncul anekdok singkatan PKS yaitu Partai Kantong Sendiri.
Dalam persaingan perpolitikan nasional sekarang ini di mana begitu banyak partai-partai yang ada, ciri khas dan karakteristik menjadi modal tersendiri bagi partai yang bersangkutan. PKS telah menemukan karakternya ketika di kampanye Pemilu 2004 mereka mengklaim diri mereka sendiri sebagai partai dakwah. Namun, di Pemilu 2009 partai ini mencoba ke tengah, sehingga tercitra agak meninggalkan karakternya. Akibatnya di Pemilu 2009 jumlah perolehan suara partai ini stagnan. Sebaiknya PKS harus tetap memegang teguh karakter dan prinsipnya dan memegang teguh itu sembari ia terus menuju ke tengah.
Satu lagi yang membuat PKS mengambil tempat tersendiri di hati masyarakat, yaitu partai ini adalah partai yang pertama kali menyerukan politik yang lebih humanis. Datang pertama kali menolong bencana Tsunami Aceh adalah salah satu buktinya. Itulah yang dilakukan partai ini, sehingga membuat perolehan suara partai ini di Pemilu 2004 melejit dibandingkan Pemilu 1998 ketika melakukan politik humanis. Masyarakat juga menilai politik humanis yang dilakukan PKS bukanlah demi mencari kekuasaan saja, tetapi benar-benar berangkat dari suatu kewajiban. Penilaian itu ada karena PKS secara konsisten membantu masyarakat entah besok akan pemilu atau lima tahun lagi akan pemilu. Sikap-sikap seperti inilah yang patut dicontoh oleh partai lain.
Sebagai partai Islam terbesar di Indonesia di Pemilu 2009 dengan menempati posisi keempat di bawah tiga partai nasionalis, Demokrat, Golkar, dan PDIP, PKS memasang target untuk menembus posisi tiga besar di Pemilu 2014 dan berkeyakinan untuk dapat mencalonkan calon presiden sendiri. Dengan potensi-potensi yang telah dijelaskan di atas tampaknya tidaklah mustahil bagi PKS untuk melakukannya. Sekarang tinggal kita saja sebagai masyarakat awam untuk menilai mereka, apakah orang-orang PKS ini layak memimpin kita. Kita tunggu saja pembuktiannya di Pemilu 2014.

No comments:

Post a Comment